PJCI Mendukung Provinsi Nusa Tenggara Timur Untuk Mewujudkan Koridor Listrik NTT–Jawa

  • Whatsapp

PJCI Mendukung Provinsi Nusa Tenggara Timur Untuk Mewujudkan Koridor Listrik NTT–Jawa

Jakarta, Pena-emas.com. Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI) hari ini mengadakan audensi dengan Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor B Laiskodat, untuk mendukung terwujudnya inisiatif PLTS Sumba 20.000 MW dan kabel bawah laut yang akan menghubungkan Provinsi NTT sebagai pusat pembangkitan energi surya dengan Pulau Jawa dan Bali sebagai pusat beban di Indonesia.

Bacaan Lainnya

PJCI menyambut baik keinginan Gubernur NTT untuk menjadikan Provinsi NTT, khususnya Pulau Sumba, sebagai pusat pembangkitan energi surya.

Sebagai asosiasi yang telah lama bergerak di bidang energi terbarukan dan jaringan cerdas, PJCI juga melihat potensi Pulau Sumba sebagai produsen energi surya.

“Untuk Pulau Sumba, atau Provinsi NTT umumnya, PLTS mampu beroperasi sepanjang 5 hingga 6 jam sehari. Sebagai perbandingan, di DKI Jakarta operasional optimal PLTS sehari berkisar antara 3-4 jam,” demikian disampaikan oleh Eddie Widono, Pendiri dan Ketua Pembina PJCI. hari ini Jumat di Jakarta (25/9/20) melalui siaran persnya yang terima media.

“Kami sendiri secara internal telah mendeklarasikan inisiatif ini dengan nama Sumba Untuk Indonesia, dimana dampak yang diberikan, baik dampak secara ketenagalistrikan, ekonomi, maupun pengembangan industri terkait, akan sangat besar apabila inisiatif ini dijalankan dengan baik,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Eddie Widiono menambahkan bahwa pembangunan kabel bawah laut yang menghubungkan Pulau Sumba hingga Pulau Jawa merupakan trend yang
terjadi secara global, dimana lokasi yang memiliki potensi pembangkitan energi terbarukan berada jauh dari lokasi pusat beban.

Uni Eropa telah memiliki inisiatif European Super Grid sejak lama, dimana terjadi keterhubungan antara potensi energi terbarukan dengan pusat beban. China dengan State Grid juga melakukan hal yang serupa, dimana potensi energi surya berada di daerah gurun yang dihubungkan menggunakan jaringan interkoneksi High Voltage Direct Current (HVDC) menuju kota kota besar sebagai pusat beban.

Pada audiensi dengan perwakilan PJCI, Gubernur NTT juga menyampaikan keinginannya supaya inisiatif PLTS Pulau Sumba dan interkoneksi bawah laut turut
memberikan dampak ekonomi bagi Pulau Sumba, khususnya, dan Provinsi NTT pada umumnya.

PJCI menyampaikan bahwa pembangunan pembangkitan energi terbarukan skala besar telah diakui memiliki manfaat langsung terhadap pertumbuhan pekerjaan dan pengembangan ekonomi.

“National Renewable Energy Lab (NREL) di Amerika Serikat telah menyusun model Jobs and Economic Development Impact (JEDI) model yang mencoba mengkuantifikasi dampak dari pembangunan pembangkit energi terbarukan,” sambung Eddie Widiono.

“Kami mengusulkan kepada Gubernur untuk turut bekerjasama dengan organisasi global yang berfokus kepada pembangunan ekonomi, misalnya dengan UNDP, dalam pengembangan model ekonomi dari pembangunan PLTS skala besar di Sumba,” menutup diskusi.

Sejalan dengan nota kesepahaman yang dibuat antara PJCI dan Gubernur NTT, PJCI telah mengumpulkan tim teknis lintas disiplin yang akan bekerja menyusun dokumen dan merangkul berbagai pemangku kepentingan terkait dalam mendorong inisiatif Sumba Untuk Indonesia.

Tentang PJCI Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI) adalah suatu perkumpulan yang didirikan pada tanggal 6 Juli 2015 dan telah berbadan hukum dengan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia tertanggal 17 Agustus 2017 nomor AHU-0012283. AH.01.07.TAHUN 2017.

Jaringan cerdas adalah suatu jaringan kelistrikan yang mengkolaborasikan teknologi digital dan teknologi mutakhir lainnya dalam rangka mengawasi serta mengelola distribusi listrik dari segala sumber agar dapat memenuhi semua jenis kebutuhan listrik para pengguna.

Pos terkait